Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Namun tanpa disadari, cara kita berbicara, membuat aturan, dan merespons emosi anak setiap hari sebenarnya membentuk gaya pola asuh orang tua yang berbeda.
Dalam dunia psikologi, terdapat empat gaya pola asuh yang sering dikenal berdasarkan teori Diana Baumrind. Memahami perbedaannya dapat membantu Mama dan Papa lebih sadar dalam membangun hubungan yang sehat dengan anak.
1. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian)
Pada pola asuh ini, aturan menjadi fokus utama. Orang tua cenderung menuntut anak patuh tanpa banyak penjelasan.
Contohnya:
“Pokoknya harus ikut Mama.”
“Jangan membantah.”
Anak biasanya tumbuh disiplin, tetapi beberapa anak bisa menjadi kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat atau mengambil keputusan sendiri.
2. Pola Asuh Permisif (Permissive)
Sebaliknya, pola asuh permisif memberikan kebebasan yang sangat besar kepada anak. Orang tua cenderung menghindari konflik dan jarang menetapkan batasan.
Contohnya:
Anak boleh tidur kapan saja.
Aturan sering berubah sesuai suasana hati.
Anak mungkin merasa bebas berekspresi, tetapi terkadang kesulitan memahami tanggung jawab dan batasan sosial.
3. Pola Asuh Tidak Terlibat (Neglectful)
Pada pola asuh ini, kebutuhan fisik anak mungkin terpenuhi, tetapi keterlibatan emosional orang tua sangat minim.
Anak jarang mendapatkan perhatian, komunikasi, atau waktu bersama yang cukup. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan emosional dan rasa aman anak.
4. Pola Asuh Otoritatif (Authoritative)
Banyak ahli perkembangan anak menganggap pola asuh ini sebagai pendekatan yang paling seimbang.
Orang tua tetap memiliki aturan yang jelas, tetapi juga mendengarkan perasaan anak dan menjelaskan alasan di balik aturan tersebut.
Contohnya:
“Mainannya dirapikan dulu ya, setelah itu kita bisa baca buku bersama.”
“Mama tahu kamu kecewa, tapi sekarang waktunya pulang.”
Anak belajar memahami batasan sekaligus merasa didengar dan dihargai.
Tidak Harus Sempurna
Yang menarik, sebagian besar orang tua sebenarnya tidak selalu berada dalam satu kategori. Dalam situasi tertentu kita bisa lebih tegas, sementara di situasi lain bisa lebih longgar.
Yang terpenting bukan menjadi orang tua yang sempurna, tetapi terus belajar membangun hubungan yang hangat, konsisten, dan penuh rasa hormat dengan anak.
Karena pada akhirnya, anak tidak hanya belajar dari aturan yang kita buat. Mereka juga belajar dari cara kita mendengarkan, menemani, dan hadir dalam kehidupan mereka setiap hari.
Ingin mendapatkan lebih banyak tips parenting, ide bermain anak tanpa gadget, printable edukatif, dan inspirasi bonding bersama si Kecil?
Gabung ke Channel WhatsApp Karpin dan dapatkan berbagai ide aktivitas serta informasi terbaru tentang aplikasi RUMA untuk membantu rutinitas Mama dan anak setiap hari.
