Si kecil menunjuk temannya di taman bermain sambil tertawa, “Hahaha, kamu gendut!” Mama langsung kaget dan ikut malu. Atau di rumah, ia bilang ke adiknya, “Gambarmu jelek, punyaku bagus.” Rasanya campur aduk antara bingung dan khawatir, dari mana anak belajar bicara begitu.
Yang perlu Mama tahu lebih dulu: anak usia 2–6 tahun yang suka mengejek hampir selalu bukan anak yang jahat. Di usia ini ia sedang menguji kata, meniru yang ia dengar, dan belum benar-benar paham bahwa ucapannya bisa menyakiti. Cara mengatasinya bukan dengan memarahi balik, tapi dengan menamai perilakunya, mengajari ia membaca perasaan orang lain, dan memberi contoh kata yang lebih baik.
Kabar baiknya, empati itu keterampilan yang bisa dilatih pelan-pelan. Anak yang hari ini mengejek temannya bukan berarti akan tumbuh jadi orang yang suka merendahkan. Yang menentukan justru bagaimana Mama menanggapinya sekarang. Berikut langkah yang bisa Mama pakai.
- Mengejek pada anak 2–6 tahun biasanya bentuk meniru dan menguji kata, bukan niat menyakiti.
- Cari tahu sumbernya dulu: bisa dari kakak, tontonan, teman, atau cara orang dewasa bercanda di rumah.
- Tanggapi saat kejadian dengan tenang, tanpa balik mempermalukan anak di depan orang lain.
- Ajari anak membaca perasaan orang lain lewat pertanyaan sederhana, bukan ceramah panjang.
- Beri contoh kata pengganti yang konkret supaya anak tahu harus bilang apa.
Kenapa Anak Suka Mengejek atau Merendahkan Orang Lain?
Di usia 2–6 tahun, otak anak belum matang di bagian yang mengatur empati dan kontrol diri. Ia belum sepenuhnya mengerti bahwa orang lain punya perasaan yang berbeda dari dirinya. Jadi saat ia bilang “kamu jelek”, sering kali ia cuma menyuarakan apa yang terlintas, tanpa sadar itu melukai.
Ada juga anak yang mengejek karena sedang mencari reaksi. Ketika ia melihat temannya menangis atau orang dewasa tertawa, otaknya mencatat bahwa kata itu “berhasil” menarik perhatian. Sebagian lagi mengejek karena merasa kecil atau kalah, lalu merendahkan orang lain supaya dirinya terasa lebih hebat.
Cari Tahu Anak Meniru dari Mana
Sebelum mengoreksi, telusuri dulu sumbernya. Anak menyerap kata dari lingkungan terdekat: kakak yang suka meledek, kartun dengan tokoh yang saling mengolok, teman di sekolah, atau bahkan cara orang dewasa di rumah bercanda satu sama lain. Kadang ejekan yang menurut kita lucu ditiru anak tanpa filter.
Coba perhatikan kapan dan ke siapa anak mengejek. Kalau polanya muncul setelah nonton tayangan tertentu, mungkin itu sumbernya. Kalau ia menirukan kalimat yang persis pernah Mama atau orang rumah ucapkan, di situ pekerjaan rumahnya. Anak belajar dari yang ia lihat, bukan dari yang kita perintahkan.
Tanggapi Saat Kejadian, Tanpa Mempermalukan Balik
Saat anak mengejek, tahan dorongan untuk membentak “Kamu nakal!” di depan orang. Membalas dengan mempermalukan justru mengajarkan hal yang sama yang ingin Mama hentikan. Sebaliknya, dekati anak, turunkan badan sejajar matanya, dan beri kalimat pendek yang jelas.
Misalnya, “Kata itu menyakiti hati temanmu. Kita tidak bilang begitu.” Singkat, tegas, tanpa ceramah. Lalu arahkan ia ke perbaikan, seperti mengajak minta maaf kalau ia sudah cukup tenang. Jangan paksa minta maaf saat ia masih emosi, karena itu cuma jadi formalitas tanpa makna.
Ajari Anak Membaca Perasaan Orang Lain
Empati tumbuh saat anak diajak membayangkan posisi orang lain. Daripada bilang “Jangan jahat”, coba pancing dengan pertanyaan: “Coba lihat wajah adik, menurutmu dia sedang merasa apa?” Pertanyaan begini melatih anak berhenti sejenak dan memperhatikan.
Bisa juga dibalik ke pengalamannya sendiri. “Ingat waktu temanmu bilang gambarmu jelek? Kamu sedih, kan? Adik juga begitu.” Menghubungkan ke perasaan yang pernah ia rasakan membuat konsep abstrak seperti empati jadi nyata buat anak kecil.
Beri Contoh Kata Pengganti yang Konkret
Anak sering mengejek karena belum punya kosakata lain untuk mengungkapkan apa yang ia rasa. Saat ia bilang “Gambarmu jelek”, mungkin maksudnya ia ingin gambarnya dipuji. Bantu ia menemukan kata yang lebih baik: “Kalau kamu mau gambarmu dilihat, bilang saja, lihat gambarku dong.”
Beberapa contoh yang bisa Mama latih sehari-hari:
- Ganti “Kamu lambat” dengan “Ayo kita lakukan bareng”
- Ganti “Punyaku lebih bagus” dengan “Punyaku begini, punyamu begitu, dua-duanya beda”
- Ganti meledek fisik teman dengan menyebut hal yang ia suka dari teman itu
Latih lewat bermain peran. Pakai boneka atau mainan untuk memperagakan situasi, lalu ajak anak memilih kata mana yang bikin temannya senang. Sambil main, ia belajar tanpa merasa sedang dimarahi.
Puji Saat Anak Berkata Baik
Kita sering cepat menegur saat anak salah, tapi lupa memberi perhatian saat ia berbuat baik. Padahal pujian yang spesifik jauh lebih ampuh membentuk kebiasaan. Saat anak menghibur temannya atau berbagi tanpa diminta, sebut langsung: “Mama senang lihat kamu bilang hal baik ke adik tadi.”
Anak mengulang perilaku yang membuatnya merasa diperhatikan. Kalau perhatian terbesar ia dapat justru saat mengejek, ia akan mengulang itu. Geser perhatian Mama ke saat-saat ia berbuat baik, dan ejekan pelan-pelan kehilangan daya tariknya.
Penutup: Ini Proses, Bukan Sekali Jadi
Anak tidak akan berhenti mengejek setelah sekali ditegur. Empati dibangun dari ratusan momen kecil, dari pertanyaan “dia merasa apa ya?” yang Mama ulang berkali-kali, dari contoh yang Mama tunjukkan setiap hari. Wajar kalau hari ini ia mengerti, besok lupa lagi.
Yang penting anak tahu kata-katanya punya pengaruh, dan ada cara lain yang lebih baik. Setiap kali Mama menanggapi dengan tenang dan konsisten, anak belajar bahwa menyakiti bukan cara untuk merasa hebat atau diperhatikan.
Pelan-pelan saja, Mama.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Anak saya mengejek temannya, apakah ini tanda ia akan jadi anak yang kasar?
Tidak. Pada anak 2–6 tahun, mengejek umumnya bagian dari meniru dan menguji kata, bukan tanda watak kasar yang menetap. Bagian otak yang mengatur empati memang belum matang di usia ini. Yang menentukan arah ke depan adalah cara Mama menanggapi sekarang, lewat contoh dan latihan empati yang konsisten.
Haruskah saya memaksa anak minta maaf setelah mengejek?
Jangan memaksa saat ia masih emosi, karena maaf yang dipaksa cuma jadi formalitas. Tenangkan dulu anak, jelaskan singkat bahwa kata tadi menyakiti, lalu ajak minta maaf saat ia sudah lebih siap. Lebih baik anak benar-benar paham kenapa harus minta maaf daripada sekadar mengucapkannya.
Bagaimana kalau anak meniru ejekan dari kartun atau temannya?
Telusuri sumbernya dan kurangi paparannya kalau dari tontonan. Untuk pengaruh teman, fokus saja pada apa yang bisa Mama kontrol di rumah: beri contoh bicara yang baik, latih kata pengganti, dan puji saat anak berkata sopan. Anak akan memilih kata yang paling sering ia dengar dan paling dihargai di sekitarnya.
Kapan kebiasaan mengejek perlu perhatian lebih serius?
Kalau ejekan disertai niat menyakiti yang berulang, anak tampak menikmati melihat orang lain sedih, atau perilakunya tidak berubah sama sekali meski sudah konsisten diarahkan dalam waktu lama, ada baiknya berbicara dengan guru atau psikolog anak. Untuk sebagian besar anak usia ini, ejekan akan mereda seiring empatinya berkembang.
